Jumat, 08 November 2013

Perbedaan Otak Kiri dan Otak Kanan


Otak kiri dan Otak kanan sahabat anehdidunia.blogspot yaitu otak manusia terbelah dalam dua bagian. Kedua belahan otak bertanggung jawab silang, maksudnya belahan otak kanan bertanggung jawab terhadap tubuh bagian kiri dan sebaliknya. Hal ini berarti bila otak kanan seseorang lebih dominan, maka orang tersebut cenderung menjadi kidal atau aktif dengan bagian tubuh kiri. Kedua belahan otak sangat identik tapi berbeda fungsi. Masing-masing otak berperilaku berbeda.

Otak adalah organ tubuh yang paling vital dan penting bagi kelangsungan hidup manusia. Jika manusia diibaratkan sebuah komputer, otak adalah prosesornya. Otak manusia terdiri lebih dari 100 miliar saraf yang masing-masing terkait dengan 10 ribu saraf lain. Otak adalah organ tubuh vital yang merupakan pusat pengendali sistem saraf pusat. http://anehdidunia.blogspot.com

Otak manusia terbagi menjadi dua dan dibatasi oleh celah longitudinal. Celah longitudinal disebut juga dengan celah great longitudinal atau celah longitudinal cerebral merupakan alur dalam yang memisahkan kedua belahan otak manusia. Ada keuntungan manusia memiliki otak yang terintegrasi. Dengan dua permukaan permukaan menjadi lebih luas, yang memungkinkan untuk pertumbuhan dan pendinginan. Dengan dengan dua belahan, otak menjadi memiliki fungsi masing-masing.

Otak belahan kiri dan belahan kanan memiliki fungsi masing-masing, berikut fungsi masing-masing belahan otak:

Otak belahan kiri
Otak kiri dicirikan dengan karakteristik yang berhubungan dengan kemampuan analisis, logis, urutan, objektif dan rasional. Dengan karakterisitik ini, orang yang dominan menggunakan otak kiri cenderung memiliki pendekatan rasional terhadap kehidupan.

Orang yang dominan otak kiri akan lebih tertarik dengan angka, kata-kata atau simbol. Dengan cara berpikirnya yang logis dan rasional, individu dengan dominansi otak kiri cenderung melakukan kemampuan analisa dengan baik. Misalnya dalam bidang teknik atau akutansi.

Orang dengan dominasi otak kiri berpengalaman dalam perencanaan, dan orang ini jarang sekali melakukan persiapan di saat-saat terakhir.

Otak belahan kanan
Di sisi lain, karakteristik yang terkait dengan otak kanan adalah intuitif, acak, subjektif, holistik (secara menyeluruh) dan sintesis. Dengan karakteristik ini, orang yang dominan dengan otak kanan cenderung lebih kreatif ketimbang orang yang dominan otak kiri. http://anehdidunia.blogspot.com

Kenyataan bahwa orang dengan dominansi otak kanan lebih cenderung menyukai aspek visual, sehingga orang-orang tersebut jarang menanggapi masalah secara rinci.

Individu dengan dominansi otak kanan cenderung lebih kreatif dan intuitif, baik di bidang seni yang kreatif, maupun di bidang-bidang lainnya. Individu tersebut memiliki waktu yang tepat untuk memprioritaskan hal-hal yang sulit, karena sebagian besar keputusan yang dibuat pada saat terakhir.

Jika dua individu diberikan beberapa kasus, satu dengan dominansi otak kanan dan yang lainnya dengan dominansi otak kiri, orang dengan dominansi otak kanan akan mulai bekerja tanpa melalui manual instruksi. Sedangkan individu dengan dominansi otak kiri akan melakukannya melalui manual, memahami konsep, baru kemudian menangani kasus tersebut.

Minggu, 12 Mei 2013

PUISI ARIEL

Jika saya bercerita sekarang
maka itu hanya akan membuat sebagian orang memaklumi saya
dan sebagian lagi akan tetap menyalahkan saya
tetapi itu juga akan membuat mereka memaklumi dunia
yang seharusnya tidak dimaklumi
dan tidak ada yang dapat memetik hal yang baik dari kemakluman itu
atau hanya akan mengikuti keburukanya
maka saya lebih baik diam
jika saya berkata sekarang
maka hanya akan ada caci maki dari lidah ini
dan teriakan kasar dari kemunafikan
serta cemoohan hina pada keadilan
maka saya lebih baik diam
saya hanya akan bercerita kepada Tuhan
bersuara kepada yang berhak
berkata pada diri sendiri
lalu diam kepada yang lainya
Lalu biarkan seleksi tuhan bekerja pada hati setiap orang
suatu kesalahan yang ditanggapi dengan kesalahan berikutnya
karena arogansi, emosi, dan sulut provokasi
sering membuat yang benar pada awalnya
menjadi salah pada akhirnya
kesalahan harus ditanggapi dengan cara yang benar
TERGANTUNG SIAPA YANG LEBIH DEWASA DAN BERJIWA BESAR

Minggu, 22 April 2012

Orang dengan Penyakit Ini Tak Boleh Naik Gunung

 

Jakarta, Aktivitas pendakian gunung butuh kesiapan fisik ekstra matang. Seseorang yang memiliki riwayat penyakit tertentu sangat tidak dianjurkan untuk mendaki gunung, sebab risikonya sangat serius mulai dari cedera hingga kematian mendadak.

"Ada beberapa faktor yang perlu diperhitungkan sebelum mendaki gunung. Pertama kondisi personel, seberapa berat medan yang dilalui, serta kondisi lingkungan yang meliputi cuaca, rekan sesama pendaki dan juga kelengkapan," kata Dr Michael Triangto, SpKO, spesialis kedokteran olahraga dari RS Mitra Kemayoran saat dihubungi detikHealth, Minggu (22/4/2012).

Terkait kondisi personel, orang-orang yang memiliki riwayat penyakit berikut ini tidak dianjurkan untuk mendaki gunung.

 1. Gangguan jantung
Seperti halnya aktivitas fisik berintensitas berat lainnya, aktivitas mendaki gunung juga bisa meningkatkan kerja jantung. Risiko kematian mendadak akibat serangan jantung dipastikan akan meningkat apabila sejak awal seorang pendaki punya riwayat gangguan jantung.

 2. Darah tinggi
Meski tidak memiliki gangguan jantung, seseorang dianjurkan agar menahan diri untuk tidak mendaki gunung jika punya riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi. Aktivitas fisik yang berat seperti pendakian gunung akan semakin meningkatkan tekanan darah dan dampaknya bisa sangat buruk bagi jantung dan pembuluh darah.

 3. Gangguan paru-paru
Gangguan fungsi paru-paru baik karena sesak napas maupun sekedar flu bisa berbahaya jika dibawa naik gunung. Selain kadar udara di ketinggian memang tipis, menurunnya kemampuan paru-paru dalam menyerap oksigen membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk mendistribusikan oksigen yang hanya sedikit.

 4. Glaukoma
Meski tidak fatal, risiko kerusakan mata saat mendaki gunung juga perlu diwaspadai jika memiliki riwayat glaukoma atau meningkatnya tekanan bola mata meskipun kondisinya tidak terlalu parah. Saat mendaki medan terjal, seseorang cenderung mengejan sehingga tekanan rongga perut meningkat lalu diikuti juga oleh tekanan pada bola mata.
 Kondisi ini seringkali tidak disadari, karena yang dirasakan biasanya hanya pusing-pusing di kepala. Padahal jika pendakian masih diteruskan, lama-kelamaan pandangan akan menjadi kabur dan bukan tidak mungkin akan memicu kerusakan yang lebih serius pada mata.

 5. Diabetes
Pengidap diabetes sebenarnya tidak dilarang naik gunung, asal kondisinya terkontrol dalam arti rutin minum obat dan kadar gulanya sedang normal. Namun jika tidak terkontrol, maka risiko yang perlu diwaspadai saat naik gunung adalah kemungkinan lecet atau cedera yang lebih serius.

"Seperti yang kita tahu, lecet sekecil apapun pada pengidap diabetes bisa memicu komplikasi yang lebih serius. Dampaknya mungkin tidak dirasakan saat itu juga, tetapi setelah turun dari gunung harus segera mendapat perawatan," kata dr Michael.


sumber :  http://health.detik.com/read/2012/04/22/110343/1898311/763/orang-dengan-penyakit-ini-tak-boleh-naik-gunung